Memaknai Idhul Adha: Bukan Sekedar Ritual, Namun Tindakan

Memaknai Idhul Adha: Bukan Sekedar Ritual, Namun Tindakan
Ilustrasi Idul adha, ( Image Source :IST).
Iklan Bawaslu Tuban

Tubanliterasi.or.id – 1 September 2017, masjid-masjid mulai mengumandangkan takbir, Allah Hu Akbar, Allah Hu Akbar Wallilahilham. Riuh dan syahdu mengiringi setiap detik waktu, menentramkan jiwa yang rindu akan kemenangan. Terutama kami pemuda-pemuda yang jarang makan daging, boleh dibilang dhuafa atau mungkin kaum papa. Sangat menanti momen-momen sakral seperti ini, mengingat kebutuhan protein sangatlah penting.

Kaum muda-mudi di seantero Jawa Timur mulai berkumpul untuk nyate bareng, seperti diberitakan oleh facebook dan instagram. Mereka asyik bercengkrama satu sama lainnya, bercerita tentang keseharian yang kejam, bisa jadi curhat jarang makan daging. Sejenak melupakan persoalan pelik yang terlampau rumit untuk dihadapi. Asap-asap mulai mengepul dimana-mana, beradu dengan cerobong-cerobong asap milik korporasi. Bau harum semerbak menjadi aroma terapi, membuat rileks setiap orang yang mengendusnya. Melupakan persoalan-persoalan rumit yang kian hari semakin pelik.

Bacaan Lainnya

Hari itu mempunyai esensi bukan soal kumpul nyate, namun ada yang lebih mendalam lagi untuk dibahas. Idul adha sebuah perayaan cinta kasih kita kepada Allah, ritus keikhlasan kita sebagai bentuk ketaatan pada sang pencipta. Berawal dari kisah Nabi Ibrahim AS dan Sarah yang sudah sekian lama tak kunjung dikaruniai momongan, sangat berharap memiliki keturunan untuk melanjutkan perjuangannya. Di satu waktu beliau akhirnya meminta izin Sarah untuk menikahi seorang kaum bawah bernama Hajar, sebagai bentuk istiqomah untuk mendapatkan momongan. Tak dinyana setelah menikah, lahirlah bayi sehat yang diberikanlah nama Ismail atau yang kita kenal Nabi Ismail AS.

Sebenarnya cukup panjang jika dikisahkan secara utuh, namun langsung saja ke intinya. Allah akhirnya memerintahkan Ibrahim sebagai hamba yang setia untuk berkurban. Merelakan seseorang yang sangat berharga untuk diberikan kepada Allah sebagai bentuk ketaatan dan cinta. Jika kita berpikir dalam konteks sekarang pasti Ibrahim tidak akan tega mengorbankan anaknya. Begitu juga Ismail pasti akan kabur atau paling tidak memperdebatkan tawaran ayahnya. Namun semua itu tidak terjadi, malahan Ismail-lah yang meyakinkan ayahnya untuk menuruti perintah Allah. Ismail yang rela berkorban demi ayahnya dan Allah, telah menjadi tauladan terkait makna pengorbanan itu sendiri. Saat Ibrahim harus kebingungan antara rela dan tak rela, Ismail meyakinkannya bahwa ini bentuk keikhlasan dalam iman kepada sang pencipta. Allah yang sedang menguji Ibrahim melihat hal yang berbeda, sejak awal memang sedang sedang menguji hamba-Nya yang setia. Ibrahim yang berada dalam kondisi dilematis, akhirnya merelakan Ismail dalam kebimbangannya. Allah mengetahui hal tersebut, lalu digantikannya Ismail dengan seekor hewan ternak untuk sembelihan.
Sebagaimana tafsir yang ada di dalam Al-Quran surat Ash-Shaaffaat ayat 103-105:

”Tatkala keduanya sudah pasrah kepada Tuhan dan tunduk atas segala kehendak-Nya, kemudian Ismail berlutut dan menelungkupkan mukanya ke tanah sehingga Ibrahim tidak melihat lagi wajah anaknya itu. Ismail sengaja melakukan hal itu agar ayahnya tidak melihat wajahnya. Dengan demikian Nabi Ibrahim bisa dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Nabi Ibrahim mulai menghunus pisaunya untuk menyembelihnya. Pada waktu itu, datanglah suara malaikat dari belakangnya, yang diutus kepada Ibrahim, mengatakan bahwa tujuan perintah Allah melalui mimpi itu sudah terlaksana dengan ditelungkupkannya Ismail untuk disembelih. Tindakan Ibrahim itu merupakan ketaatan yang tulus ikhlas kepada perintah dan ketentuan Allah.

Sesudah malaikat menyampaikan wahyu itu, maka keduanya bergembira dan mengucapkan syukur kepada Allah yang menganugerahkan kenikmatan dan kekuatan jiwa untuk menghadapi ujian yang berat itu. Kepada keduanya Allah memberikan pahala dan ganjaran yang setimpal karena telah menunjukkan ketaatan yang tulus ikhlas. Mereka dapat mengatasi perasaan kebapakan semata-mata untuk menjunjung perintah Allah. Menurut riwayat Ahmad dari Ibnu ‘Abbas, tatkala Ibrahim diperintahkan untuk melakukan ibadah sa’i, datanglah setan menggoda. Setan mencoba berlomba dengannya, tetapi Ibrahim berhasil mendahuluinya sampai ke Jumrah Aqabah. Setan menggodanya lagi, tetapi Ibrahim melemparinya dengan batu tujuh kali hingga dia lari. Pada waktu jumratul wustha datang lagi setan menggodanya, tetapi dilempari oleh Ibrahim tujuh kali.

Kemudian Ibrahim menyuruh anaknya menelungkupkan mukanya untuk segera disembelih. Ismail waktu itu sedang mengenakan baju gamis (panjang) putih. Dia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, tidak ada kain untuk mengafaniku kecuali baju gamisku ini, maka lepaskanlah supaya kamu dengan gamisku dapat mengafaniku.” Maka Ibrahim mulai menanggalkan baju gamis itu, tapi pada saat itulah ada suara di belakang menyerunya, “Hai Ibrahim, kamu sudah melaksanakan dengan jujur mimpimu.” Ibrahim segera berpaling, tiba-tiba seekor domba putih ada di hadapannya.”

Singkat kata sepenggal kisah di atas memberikan pelajaran yang sangat esensial. Bagaimana kita seharusnya memaknai sebuah peristiwa, tidak hanya sebatas ritual simbolik yang selama ini dipercaya. Tetapi lebih kepada apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Allah melalu Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS. Bukan perkara berkurban sebagai wujud yang lebih individualistik. Seperti kepercayaan jika kita berkurban maka apa yang kita kurbankan akan menjadi kendaraan untuk menuju surga. Namun lebih dari itu, bahwasanya hewan yang kita sembelih merupakan bentuk keikhlasan. Bentuk cinta kasih kita kepada Allah, yang diimplementasikan dengan memberikan daging kurban kepada sesama manusia yang membutuhkan. Bukan pemahaman simbolik yang kita percayai sebagai kebenaran, yang nyatanya telah melupakan esensi dasar dari pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail yang sesungguhnya.

Allah telah memberikan pesan yang sangat jelas, bahwa sesama manusia harus saling mengasihi. Menolong mereka yang kesusahan, tertindas dan dihisap oleh mereka yang berkuasa. Kebanyakan dari kita tidak sadar akan makna dari Idul Adha tersendiri, hanya memahaminya sebagai bentuk ritual yang melapangkan jalan menuju surga. Padahal ada makna lain yang secara gamblang disampaikan oleh Allah melalui Nabi Ibrahim AS. Pengorbanan kepada sang pencipta, sebagai wujud ketaatan. Seharusnya dimaknai sebagai pengorbanan kepada sesama umat, untuk menolong mereka dari penetrasi kedzaliman imperialisme serta kapitalisme.

Kemiskinan, perampasan ruang hidup serta tercerai berainya umat, menjadi bukti bahwa kesejahteraan masih jauh dari angan-angan. Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan bahwa kesejahteraan dapat dicapai dengan bersama-sama, melalui musyawarah dan gerak bersama. Jika kita mau sedikit merenungi, berbagi daging hasil kurban merupakan shodaqoh. Sama halnya dalam berzakat, yang dapat diartikan bahwa kesejahteraan harus dicapai bersama-sama. Minimal hak-hak dasar seperti pendidikan, kesehatan dan terjaminnya kebutuhan pokok, harus disediakan oleh negara agar ketimpangan tidak semakin menjadi-jadi. Semoga di hari Idul Adha ini sebagai manusia kita sedikit tercerahkan, bahwa berkurban tidak hanya sekedar berbagi, namun harus sadar bahwa ketidakadilan juga berakar dari sekitar kita. Oleh karena itu semangat pembebasan Nabi Muhammad SAW dan keikhlasan Nabi Ibrahim SAW harus kita jadikan pelecut semangat. Demi mewujudkan pembebasan manusia dari penghisapan, serta perusakan alam sebagai bentuk perampasan ruang dan hak hidup.

Refrensi:

Tafsir Al-Quran Kementrian Agama Republik Indonesia. (2017). Ash-Shaaffaat ayat 103-105. http://quran.kemenag.go.id./

Wahyu Eka. S – Penulis adalah Nahdliyin Independen

Pos terkait